31 jilid buku tercipta karena GELEM

Diposting oleh:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on pinterest
Share on email
Share on telegram

31 Buku Terbit Karena GELEM

Sejarah baru kembali terukir indah dalam perjalanan keberadaan MTsN 1 Trenggalek Jawa Timur. Hal ini terjadi tepatnya pada paruh pertama semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Sebuah pencapaian yang membanggakan khususnya bagi warga MTsN 1 Trenggalek, meskipun pada awal tahun pelajaran belum terlintas sedikit pun. Ragam ungkapan bahagia tersebut dapat dilacak pada berbagai akun FB guru madrasah yang berada di sebelah barat TMP Karangsoko Trenggalek. Celoteh mereka pada hari Kamis, 31 Oktober 2019, tak pelak menuai banyak komentar.

Behind the scene terbitnya 31 buku

Sekitar awal ajaran, tepatnya pada minggu pertengahan bulan Juli yang lalu seorang guru membisikkan sebuah informasi kepada guru Bahasa Indonesia. Kepada sang guru Bahasa Indonesia, guru itu memberitahukan adanya informasi menarik, tentang program sukarela seorang tokoh penulis kaliber nasional untuk memberikan pelatihan secara gratis. Program ini ditujukan secara cuma-cuma kepada lembaga/instansi yang memenuhi syarat, dan diprioritaskan kepada tempat atau wilayah yang belum pernah dikunjungi oleh sang tokoh. Info yang kelewat menarik itu pun diteruskan kepada kepala madrasah. Sampai beberapa hari kemudian, tak ada informasi sebagai bentuk tindak lanjut dari pemberitahuan tersebut.

Pada waktu yang hampir bersamaan, tersiar informasi bahwa pada bulan September, perpustakaan MTsN 1 Trenggalek akan mengikuti akreditasi. Salah satu faktor penunjang, menurut kepala perpustakaan, adalah jumlah judul buku yang dimiliki. Ada jumlah minimal yang ternyata sudah ada ketentuannya. Menurut informasi kepala perpustakaan ketika itu, jumlah judul yang dimiliki oleh perpustakaan belum memenuhi standar minimal untuk Lembaga Pendidikan sebesar MTsN 1 Trenggalek.

Pada sisi lain, di luar faktor internal madrasah, ternyata juga muncul faktor pemicu. Kanwil Kemenag Jawa Timur sedang bersemangat menginisiasi program GERAMM. Kata GERAMM itu sendiri merupakan kepanjangan dari kata GERAKAN AYO MEMBANGUN MADRASAH. Gebrakan dari Kemenag Jatim ini diwujudnyatakan dalam tujuh point. Salah satu di antaranya adalah GELEM. Berasal dari kata GERAKAN LITERASI MADRASAH.

Beberapa faktor yang seakan muncul berbarengan menyemangati sang pemimpin madrasah untuk mencari-cari atau menemukan solusi terbaik nan efektif. Akhirnya bertemulah dengan komunitas GSMB (GERAKAN SEKOLAH MENULIS BUKU). Sebuah Gerakan yang berdedikasi memajukan literasi khususnya di dunia Pendidikan Indonesia.

Di suatu hari, tepatnya tanggal 29 Juli 2019 datanglah perwakilan GSMB. Seorang perempuan muda usia, yang sepertinya menjadi corong informasi seputar GSMB.  Sang “jurkam” GSMB penuh semangat memotivasi para guru untuk menghasilkan karya tulis. Seakan tak puas dengan motivasi yang hanya sekali, pihak madrasah pun meminta pengurus pusat GSMB untuk langsung mengunjungi MTsN 1 Trenggalek. Ada posisi tawar kuat yang diajukan kepada pihak GSMB. Seandainya program itu jadi dilaksanakan oleh MTsN 1 Trenggalek, maka akan menjadi rekor tersendiri, karena madrasah tersebut memiliki warga 1200 lebih.

Walhasil, pada suatu hari Sabtu, di bulan Agustus, datanglah seorang pemuda. Singkat cerita, dia adalah salah satu pengurus GSMB yang berpusat di kota Surakarta. Kehadiran sang tim inti GMSB pun, dimaksimalkan perannya. Kali ini, penggiat literasi dari kota Surakarta itu diberi kesempatan untuk memotivasi peserta didik dan sekaligus memperjelas tentang teknis pelaksanaan Gerakan menulis tersebut.

Langkah yang akan ditempuh kiranya semakin jelas. Madrasah dengan dimotori oleh PENALIFOKRA (Persatuan Jurnalistik Literasi Fotografi & Karya Ilmiah Remaja) bersinergi dengan guru Bahasa menindaklanjuti misi utama GSMB. Akhirnya, kami semua warga MTsN 1 Trenggalek bergiat menulis, tentu menyesuaikan dengan kemampuan dan kesempatan kami. Ada yang menulis puisi, cerpen dan artikel. Beberapa guru bahkan menulis lebih dari satu karya. Satu yang membuat kami bersemangat, semua tulisan yang dihasilkan, akan dilombakan dan dibukukan.

Satu bulan lebih perjalanan waktu berlalu setelah penyetoran naskah untuk diproses ke pihak GSMB. Sedikit molor dari waktu yang dijanjikan oleh tim dari Surakarta itu. Namun, kami menyadari, karena memang yang ditangani GSMB mencakup seluruh seluruh wilayah Indoneisa. Dan akhirnya, pada pertengahan bulan Oktober, datanglah kiriman paket buku dari GSMB. Alhamdulillah, kami, warga MTsN 1 Trenggalek berhasil menerbitkan buku. Total ada 31 jilid buku yang berhasil diterbitkan. Nah berikut ini rinciannya:

Punggung Tangan Harapan, 1 jilid; kompilasi karya para guru, meliputi puisi, cerpen dan artikel. Cahaya Sepertiga Alam, buku antologi puisi yang mencapai 11 jilid.

Menyarungkan Pena Runcing, buku antologi cerpen yang mencapai 18 jilid,  dan

Skema Peradaban Pendidikan, buku antologi artikel, jumlah 1 jilid.   

Untuk menandai pencapaian madrasah di belantika literasi, maka dipilihlah hari Kamis, 31 Oktober 2019 sebagai hari launching karya perdana tersebut. Kepala Kementerian Agama Kabupaten Trenggalek, H.Moh.Badrudin, M.Pd.I menjadi saksi kegiatan launching tersebut. Tak terperikan rasa bangganya kepala Kemenag tersebut. “Sempat saya berpikir, informasi yang saya dengar bahwa MTsN 1 Trenggalek akan menerbitkan banyak karya itu hanyalah pepesan kosong. Tetapi hari ini, saya dengan bangga melaunching 1229 karya literasi MTsN 1 Trenggalek. Semoga pada masa mendatang, madrasah ini bisa menerbitkan karya tulisnya kembali.”

Kami yang hadir dalam even itu serta merta mengamini, seraya berdoa dalam hati, “Semoga kami bisa melahirkan karya tulis lagi di masa-masa mendatang.”

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter

Berikan Komentar