Karya Inayya Eka Syahputri / 8F
Arek-arek bonek,
Tanpa latihan, tanpa pengalaman nekat bertempur ke medan perang
Berjuang demi menjaga kemerdekaan
Yang hendak dirampok Belanda
Bersenjata ala kadarnya
Sepatu, seragam, topi baja tak pernah punya
Tak perlu peleton, batalion atau kompi
Tak butuh strategi serta konvensi
Tak!
Mallaby, jendral panglima lawan
Kautembak dari jarak dekat saat di jalanan
Pistolnya kau rampas dari genggaman
Mobilnya hancur berantakan
Disikat granat marah jembatan merah!
Arek-arek bonek Surabaya,
Meski musuh menuduh kau adalah biang rusuh
Namun namamu tetap tercatat sebagai pahlawan teguh.
Arek-arek bonek,
Usai perundingan gagal di Tunjungan
Tanpa aba-aba, tanpa persiapan
Yamato dipanjat demi menurunkan prinsenvlag
Dirobek birunya
Dikibaribarkan kembali sebagai dwi warna
Sebab lupa membawa sang saka
Ploegmen, komandan netherland
Yang lancang menodong residen Sudirman
Kau cekik hingga binasa, lunas napasnya
Lantas kausambar sepeda
Sebagai perisai bagi pisau serdadu lawan
Yang dilempar, lolos menancap di badan.
Arek-arek bonek Surabaya,
Meski sukma pisah dari raga
Pengorbananmu sebagai kusuma bangsa tak kan pernah sia-sia!
Serupa Cak Madun gugur di Siola
Menghadang tank sendirian
Agar pasukannya terhindar dari amukan
Di Gentengkali menyusun barisan.
Arek-arek bonek,
100 ribu pejuang, miskin senjata
Sebagian besar rakyat jelata
Juga para pemuda kampung dan desa
Bersama Heiho, Knil, dan Peta
Mencegat pasukan sekutu pemenang perang dunia
Yang dibekali senapan mesin, dikawal kendaraan lapis baja,
Kapal perang, berikut pesawat udara.
Arek-arek bonek surabaya,
Meski kotamu hancur,
16 ribu pejuang gugur, 200 ribu rakyat tergusur
Dibombardir mortir
Diganyang panser dan meriam
Tapi aksi heroikmu telah menggetarkan lawan
Kebonekanmu menyadarkan dunia
Bahwa merdeka adalah hak paling asasi manusia
Suluh bagi perdamaian sesama.
Arek-arek bonek Surabaya,
Sidik dan Hariyono wong jawa
Bergandengan dengan Warouw dan Worang Jong Minahasa
Berangkulan dengan pemuda Aceh Abdullah dan Jong Ambon Sapija.
Arek-arek bonek Surabaya,
Bersama warga pemberani lainnya
Dirumat Bung Tomo, Gubernur Suryo, dan Kiai Hasyim Asy’ari
Menjelma pandu bagi ibu pertiwi.
Arek-arek bonek Surabaya,
Aku ikut mendukungmu
Tegap kuberdiri di bawah sangsaka
Tengadah ku di bawah kibaran bendera
Lamunku seakan mengelabuhi waktu
Mengenang jasamu di masa lalu.
Dia yang selalu memeluk senapan
Sontak berlari dengan kaki telanjang
Keringat dan debu saling membaur
Berdiri menantang di medan tempur.
Dia yang rebah terbujur kaku
Mengucur darah oleh tembusan peluru
Dalam bisikan seraya berkata
Merdeka!!!
Dia telah gugur
Sebagai Kusuma bangsa
Semesta berduka oleh karnamu
Berjuta doa menyertaimu.
Meski air mata membayangi kenangan
Akan pengorbanan yang tlah dipersembahkan
10 November ini
Bersama duka ini
Kusematkan setangkup doa
Bersama tekad dan asa.
Kini aku di sini
Di tempat kuberdiri
Kupenuhi harapanmu untuk negeri
Dengan semangat menggebu
Bulat sudah tekadku
Menjadi pahlawan baru.